Sabtu, 14 Desember 2013

Makalah pengajaran teman sebaya sebagai sumber belajar


MAKALAH
STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

 
Disusun Oleh :

 Kelompok 8

Anggota                          : 1.Imam Tantowi Yahya    (33 2011 045)
      2.Wenny Gustiana             (33 2011 046)
Smt/kelas                        : V / B
Mapel                             : Strategi Pembelajaran Matematika
                        Dosen Pembimbing      : Drs. H. Muslimin Tendri, M.Pd.
                                                                    NIP. 131699411




PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di era modern ini matematika merupakan salah satu pelajaran pokok yang pasti ada di setiap lembaga pendidikan. Oleh sebab  itu, banyak mahasiswa yang mengambil jurusan Pendidikan Matematika. Dari sekian banyak mahasiswa pasti memiliki karakteristik dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Dan tidak sedikit juga mahasiswa yang belum mengerti materi-materi yang telah di sampaikan oleh pengajar. Padahal mahasiswa Pendidikan Matematika di harapkan bisa menjadi calon pendidik yang professional. Tidak hanya professional dalam hal materi-materi yang akan disampaikan, tetapi juga professional dalam hal menyampaikan materi tersebut sehingga akan mudah dimengerti oleh siswa. Calon guru juga harus mempunyai cara mengajar atau strategi mengajar yang menyenangkan sehingga akan membuat siswa merasa lebih bersemangat dalam belajar matematika, sehingga kesan bahwa matematika itu sulit akan tersamarkan dengan metode belajar yang menyenagkan. Untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa tersebut sehingga di buatlah sebuah karya tulis yang dapat membantu mahasiswa menguasai dan memahami materi dan dapat juga menciptakan ide atau gagasan yang akan di praktekkan pada saat mengajar nantinya.
Program Studi Pendidikan Matematika memiliki berbagai mata kuliah diantaranya Strategi Pembelajaran Matematika yang membahas tentang proses (kinerja pembelajaran) yang melibatkan setiap komponen pembelajaran. Pada makalah ini akan di bahas mengenai Model Pembelajaran Matematika dengan sub materi pengajaran teman sebaya sebagai sumber belajar dan pembelajaran matematika terpadu.

1.2    Rumusan Masalah
1.2.1  Apa definisi pengajaran teman atau tutor ?
1.2.2  Bagaimana prosedur penyelenggaraan tutor sebaya ?
1.2.3  Bagaimana pembelajaran matematika terpadu ?
1.2.4  Bagaimana hakikat pembelajaran matematika ?
1.2.5  Bagaimana mengembangkan strategi pembelajaran matematika yang terpadu ?

1.3   Tujuan
1.3.1  Untuk mengetahui definisi pengajaran teman atau tutor.
1.3.2  Untuk mengetahui prosedur penyelenggaraan tutor sebaya.
1.3.3  Untuk mengetahui pembelajaran matematika terpadu.
1.3.4  Untuk mengetahui hakikat pembelajaran matematika.
1.3.5 Untuk mengetahui cara mengembangkan strategi pembelajaran matematika yang  terpadu.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengajaran Teman Sebaya Sebagai Sumber Belajar
            Sekolah memiliki banyak potensi yang dapat ditingkatkan efektifitasnya untuk menunjang keberhasilan suatu program pengajaran. Potensi yang ada disekolah, yaitu semua sumber-sumber daya yang dapat mempengaruhi hasil dari proses belajar mengajar. Keberhasilan suatu program pengajaran tidak disebabkan oleh satu macam sumber daya, tetapi disebabkan oleh perpaduan antara berbagai sumber-sumber daya saling mendukung memjadi satu sistem yang integral. (Cece Wijaya, dkk. 1988).
            Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru, tetapi bisa orang lain. Sumber belajar dari orang lain misalnya teman dari kelas yang lebih tinggi, teman sekelas atau keluarga dirumah. Sumber belajar bukan guru dan berasal dari orang yang lebih pandai disebut tutor. Tutor ada dua macam, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai, dan tutor kakak adalah tutor dari kelas yang lebih tinggi. (Harsunarko, 1989, h.13).
            Beberapa pendapat mengenai tutor sebaya, diantaranya adalah :
1.      Dedi Supriyadi (1985, h.44) mengemukakan, bahwa : “Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu sisawa yang mengelami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih tinggi”.
2.      Ischak dan Warji (1987, h.44) mengemukakan bahwa : “Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas  terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya”.
3.      Conny Semiawan, dkk. (1987, h.70) mengemukakan bahwa : “Tutor sebaya itu adalah siswa yang pandai dapat memberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman-teman sekelasnya diluar sekolah”.
            Jadi, Tutor sebaya adalah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya disekolah. Bantuan belajar oleh sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya untuk bertanya ataupun minta bantuan. Sebagaiman dikemukakan oleh Longstreth (dalam Muntasir, dkk.1985, h. 82-83) hubungan anak dengan anak, sebagai berikut :
“interaksi kawan membukakan mata anak terhadap tingkah laku yang berlaku dalam kebudayaan itu, dan yang sering dilakukan, dan dengan demikian ia condong untuk mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku yang dipakai untuk pergaulan yang berlaku …”.
            Tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang justru sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri.
2.1.1 Prosedur Penyelenggaraan Tutor Sebaya
            Menurut Branley (1974, h.53) ada tiga model dasar dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan tutor, yaitu :
1.      Student to student
2.      Group to tutor
3.      Group to student
Model Operasional Kelompok
tutor
Group
Murid
Murid
Murid
Murid
Murid
Tutor
 













Gambar 1                                                        Gambar 2
Murid
Murid
Murid
Murid
Tutor
 













      Gambar 3


2.2 Pembelajaran Matematika Terpadu
            Matematika adalah disiplin ilmu yang tentang tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pada matematika di letakkan dasar bagaimana mengembangkan cara berfikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar tersebut di anut dan digunakan oleh bidang studi dan ilmu lain.
            Matematika seyogianya dipandang secara fleksibel dan memahami hubungan serta keterkaitan antara ide atau gagasan-gagasan matematika yang satu dengan yang lainnya. Untuk mempromosikan pandangan ini NCTM (National Council of Teachers of Matematics) merekomendasikan empat prinsip, yaitu :
1.      Matematika sebagai pemecahan masalah
2.      Matematika sebagai penalaran
3.      Matematika sebagai komunikasi, dan
4.      Matematika sebagai hubungan.
Selain empat rekomendasi tersebut di atas, NCTM (1989) menambahkannya dengan estimasi dan struktur matematika yang membantu dalam menggeneralisasikan matematika secara komprehensif dan holistik.

Pembelajaran matematika yang terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik bahkan jika memungkinkan antar disiplin. Konsep pembelajaran matematika terpadu mempertimbangkan siswa sebagai pembelajar dan  proses yang melibatkan pengembangan berfikir dan belajar.Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang komprehensif dan holistik (lintas topik bahkan lintas bidang studi jika memungkinkan) tentang materi yang telah disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substansi saja, namun diharapkan pula muncul ‘efek iringan’ dari pembelajaran matematika tersebut. Efek iringan yang dimaksud antara lain adalah :
1.      Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lain.
2.      Lebih menyadari akan penting dan strategisnya matematika bagi bidang lain.
3.      Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia.
4.      Lebih mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis.
5.      Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah.
6.      Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.

Ketercapaian dua sasaran pembelajaran matematika secara substansi dan efek iringannya akan tercapai manakala siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar matematika (doing math) secara komprehensif dan holistik. Dengan demikian, dalam proses belajar mengajar matematika kegiatan pengajaran perlu “diubah” menjadi kegiatan pembelajaran. Teknik mengajar yang baik harus diganti dengan teknik belajar yang baik. Titik berat pemberian materi pembelajaran harus digeser menjadi pemberian kemampuan yang relevan dengan kebutuhan siswa untuk belajar.
Belajar matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan meliputi learning to do, learning to be, hingga learning to live together. Oleh karena itu, filosofi pengajaran matematika perlu diperbaharui menjadi pembelajaran matematika.

2.2.1 Hakikat Pembelajaran Matematika
            Pemikiran bahwa pembelajaran matematika lebih utama dibandingkan dengan pengajaran matematika dan bahwa matematika penting dan harus di kuasai oleh siswa secara komprehensif dan holistik, mengandung konsekuensi bahwa pembelajaran matematika seyogianya mengoptimalkan keberadaan dan peran siswa sebagai pembelajar. Karena filosofi antara pengajaran dan pembelajaran matematika sesungguhnya berbeda, maka “pengajaran" matematika harus berubah paradigmanya, yaitu :
1.      Dari teacher centered menjadi learner centered
2.      Dari teaching centered menjadi learning centered
3.      Dari content based menjadi competency based
4.      Dari product of learning menjadi process of lerning
5.      Dari summative evaluation menjadi formative evaluation

Sejumlah kelompok matematikawan dan pendidik matematika di Amerika Serikat mengusulkan sejumlah revisi atau pembaharuan kurikulam matematika, khususnya untuk jenjang sekolah menengah. Berikut ini dua buah saran dari sejumlah saran yang mereka rekomendasikan, yaitu :
1.      A contemporary course in high school mathematics should achieve the integration and unification of topics that have traditionally been segregated in a three-year sequence consisting of algebra, geometry, and intermediate algebra and trigonometry.
2.      Student will benefit from the early introduction of practical modern aspects of mathematics, particularly logic, probability, and statistics.

Guru semestinya memandang kelas sebagai tempat di mana masalah-masalah yang menarik di-eksplore oleh siswa dengan menggunakan idea-idea matematika. Sebagai contoh, seorang siswa dapat mengukur benda-benda secara langsung, mengumpulkan informasi dan menjelaskan apa yang mereka kumpulkan dengan menggunakan statistik atau menjelajahi sebuah fungsi melalaui pengujian grafiknya. Dengan berlandaskan kepada prinsip pembelajaran matematika yang tidak sekedar learning to know, melainkan juga harus meliputi learning to do, learning to be, hingga learning to live together, maka pembelajaran matematika seyogianya berdasarkan pada pemikiran bahwa siswa yang harus belajar dan semestinya dilakukan secara komprehensif dan holistik.

2.2.2 Mengembangkan Srategi Pembelajaran Matematika yang Terpadu
Mengajarkan ilmu pengetahuan, termasuk matematika, mempunyai cara-cara yang sifatnya umum dan khusus. Kedua nya harus mencakup hakekat pemahaman kognitif, afektif, dan psikomotor. Di samping itu, tidak kalah penting nya bagaimana mengkomunikasikan idea atau gagasan yang dikandung oleh ilmu pengetahuan tersebut kepada orang lain. Karena pada dasarnya, pembelajaran adalah proses menjadikan orang lain paham dan mampu menyebarluaskan apa yang dipahaminya tersebut.
      Sebuah strategi pembelajaran, apapun materi atau bidangnya, harus menekankan pada tiga aspek penting, yaitu;
a)      aspek kemampuan khusus;
b)      aspek wawasan dan kemampuan umum; dan
c)      aspek kemampuan berkomunikasi. 
      Demikian pula dalam pembelajaran matematika, strategi pembelajaran yang digunakan harus mencakup 3 (tiga) hal tersebut diatas.

            Dalam pembelajaran matematika, seorang guru seyogianya tidak menyekat secara ekstrim pelajaran matematika sebagai penyajian materi-materi matematika belaka. Topik-topik dalam matematika sebaiknya tidak disajikan sebagai materi secara parsial, tetapi harus diintegrasikan antara satu topik dengan topik lainnya, bahkan dengan bidang lain. Matematika harus diperkenalkan dan disajikan ke dalam kehidupan kita. Menyajikan matematika hanya sebagai kumpulan fakta-fakta saja tidak akan menumbuhkan kebermaknaan dan hakikat matematiak sebagai queen of the science  dan sebagai pelayan bagi ilmu lain.
            Mengajarkan matematika sekedar sebagai sebuah penyajian tentang fakta-fakta hanya
akan membawa sekelompok orang menjadi penghafal yang baik, tidak cerdas melihat hubungan sebab-akibat, dan tidak pandai memecahkan masalah. Padahal dalam menghadapi perubahan masa depan yang cepat, bukan pengetahuan saja yang diperlukan, tetapi kemampuan mengkaji dan berfikir (bernalar) secara logis, kritis, dan sistematis.

            Sebagai konsekuensi dari penting dan strategisnya matematika, maka pembelajaran matematika harus teritegrasi dan komprehensif, sehingga seorang guru matematika harus :
1.      Mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengajar (menyajikan pembelajaran) secara komprehensif dan holistik dengan metode dan pendekatan yang tepat dan proporsional.
2.      Senantiasa berusaha menambah pengetahuan dan keterampilan untuk mengimbangi perupahan dan dinamika ilmu pengetahuan yang terjadi, khususnya kaitan antar  topik dalam matematika dan pemanfaatan matematika oleh bidang lain.
3.      Berusaha melakukan penelitian (khususnya penelitian kelas) unutk mengidentifikasi kelemahan dalam kegiatan pembelajaran matematika (yang terintegrasi) yang dilakukan dan selanjutnya mencari alternatif solusi yang mungkin untuk perbaikan pembelajaran di masa  datang.










BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1 Tutor sebaya adalah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya disekolah.
3.1.2 Pembelajaran matematika yang terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik bahkan jika memungkinkan antar disiplin.
3.1.3 Guru semestinya memandang kelas sebagai tempat di mana masalah-masalah yang menarik di-eksplore oleh siswa dengan menggunakan idea-idea matematika.

3.2 Saran
3.2.1 Sebaiknya siswa ataupun mahasiswa yang kurang mengerti tentang suatu materi, hendaklah mencari tutor yang bisa mengajari ataupun membantu mempermudah menjelaskan materi tersebut sehingga bisa mudah dipahami.
3.2.2 Dalam memecahkan masalah pada bidang lain, ilmu matematika bisa digunakan sebagai alat bantu menyelesaikannya.
3.2.3 Seorang guru harus bisa mengeksplor matematika pada kehidupan nyata yang ada di sekitar anak didiknya.
























Daftar Pustaka

Tim MKPBM Jurusan Pendidikan Matematika.(2001).Stategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.Bandung.


Tidak ada komentar: