STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Disusun Oleh :
Kelompok
8
Anggota : 1.Imam Tantowi Yahya (33
2011 045)
2.Wenny Gustiana (33 2011 046)
Smt/kelas : V / B
Mapel
: Strategi Pembelajaran Matematika
Dosen Pembimbing :
Drs. H. Muslimin Tendri, M.Pd.
NIP. 131699411
PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Di
era modern ini matematika merupakan salah satu pelajaran pokok yang pasti ada
di setiap lembaga pendidikan. Oleh sebab
itu, banyak mahasiswa yang mengambil jurusan Pendidikan Matematika. Dari
sekian banyak mahasiswa pasti memiliki karakteristik dan tingkat pemahaman yang
berbeda-beda. Dan tidak sedikit juga mahasiswa yang belum mengerti
materi-materi yang telah di sampaikan oleh pengajar. Padahal mahasiswa
Pendidikan Matematika di harapkan bisa menjadi calon pendidik yang
professional. Tidak hanya professional dalam hal materi-materi yang akan
disampaikan, tetapi juga professional dalam hal menyampaikan materi tersebut
sehingga akan mudah dimengerti oleh siswa. Calon guru juga harus mempunyai cara
mengajar atau strategi mengajar yang menyenangkan sehingga akan membuat siswa
merasa lebih bersemangat dalam belajar matematika, sehingga kesan bahwa
matematika itu sulit akan tersamarkan dengan metode belajar yang menyenagkan.
Untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa tersebut sehingga di buatlah sebuah karya
tulis yang dapat membantu mahasiswa menguasai dan memahami materi dan dapat
juga menciptakan ide atau gagasan yang akan di praktekkan pada saat mengajar
nantinya.
Program
Studi Pendidikan Matematika memiliki berbagai mata kuliah diantaranya Strategi
Pembelajaran Matematika yang membahas tentang proses (kinerja pembelajaran)
yang melibatkan setiap komponen pembelajaran. Pada makalah ini akan di bahas
mengenai Model Pembelajaran Matematika dengan sub materi pengajaran teman
sebaya sebagai sumber belajar dan pembelajaran matematika terpadu.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Apa definisi pengajaran teman atau tutor
?
1.2.2 Bagaimana prosedur penyelenggaraan tutor
sebaya ?
1.2.3 Bagaimana pembelajaran matematika terpadu ?
1.2.4 Bagaimana hakikat pembelajaran matematika ?
1.2.5 Bagaimana mengembangkan strategi pembelajaran
matematika yang terpadu ?
1.3 Tujuan
1.3.1
Untuk mengetahui definisi pengajaran
teman atau tutor.
1.3.2 Untuk mengetahui prosedur penyelenggaraan
tutor sebaya.
1.3.3 Untuk mengetahui pembelajaran matematika terpadu.
1.3.4 Untuk mengetahui hakikat pembelajaran
matematika.
1.3.5
Untuk mengetahui cara mengembangkan strategi pembelajaran matematika yang terpadu.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengajaran Teman Sebaya Sebagai Sumber
Belajar
Sekolah memiliki banyak potensi yang dapat
ditingkatkan efektifitasnya untuk menunjang keberhasilan suatu program
pengajaran. Potensi yang ada disekolah, yaitu semua sumber-sumber daya yang
dapat mempengaruhi hasil dari proses belajar mengajar. Keberhasilan suatu
program pengajaran tidak disebabkan oleh satu macam sumber daya, tetapi
disebabkan oleh perpaduan antara berbagai sumber-sumber daya saling mendukung
memjadi satu sistem yang integral. (Cece Wijaya, dkk. 1988).
Dalam arti luas sumber belajar tidak
harus selalu guru, tetapi bisa orang lain. Sumber belajar dari orang lain
misalnya teman dari kelas yang lebih tinggi, teman sekelas atau keluarga
dirumah. Sumber belajar bukan guru dan berasal dari orang yang lebih pandai
disebut tutor. Tutor ada dua macam, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor
sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai, dan tutor kakak adalah tutor dari
kelas yang lebih tinggi. (Harsunarko, 1989, h.13).
Beberapa pendapat mengenai tutor
sebaya, diantaranya adalah :
1.
Dedi Supriyadi
(1985, h.44) mengemukakan, bahwa : “Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa
orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu sisawa yang mengelami
kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih
tinggi”.
2.
Ischak dan Warji
(1987, h.44) mengemukakan bahwa : “Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang
telah tuntas terhadap bahan pelajaran,
memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan
pelajaran yang dipelajarinya”.
3.
Conny Semiawan,
dkk. (1987, h.70) mengemukakan bahwa : “Tutor sebaya itu adalah siswa yang
pandai dapat memberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai.
Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman-teman sekelasnya diluar sekolah”.
Jadi, Tutor sebaya adalah sumber
belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan
belajar kepada teman-teman sekelasnya disekolah. Bantuan belajar oleh sebaya
dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami.
Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya
untuk bertanya ataupun minta bantuan. Sebagaiman dikemukakan oleh Longstreth
(dalam Muntasir, dkk.1985, h. 82-83) hubungan anak dengan anak, sebagai berikut
:
“interaksi kawan membukakan mata anak terhadap
tingkah laku yang berlaku dalam kebudayaan itu, dan yang sering dilakukan, dan
dengan demikian ia condong untuk mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku yang
dipakai untuk pergaulan yang berlaku …”.
Tugas sebagai tutor merupakan
kegiatan yang kaya akan pengalaman yang justru sebenarnya merupakan kebutuhan
anak itu sendiri.
2.1.1
Prosedur Penyelenggaraan Tutor Sebaya
Menurut Branley (1974, h.53) ada tiga model dasar
dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan tutor, yaitu :
1.
Student to
student
2.
Group to tutor
3.
Group to student
Model Operasional
Kelompok
|
tutor
|
|
Group
|
|
Murid
|
|
Murid
|
|
Murid
|
|
Murid
|
|
Murid
|
|
Tutor
|
Gambar
1 Gambar
2
|
Murid
|
|
Murid
|
|
Murid
|
|
Murid
|
|
Tutor
|
Gambar 3
2.2
Pembelajaran Matematika Terpadu
Matematika adalah disiplin ilmu yang tentang tata cara
berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Pada matematika di letakkan dasar bagaimana mengembangkan cara berfikir dan
bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma
(tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar tersebut di anut dan digunakan oleh
bidang studi dan ilmu lain.
Matematika seyogianya dipandang secara fleksibel dan memahami
hubungan serta keterkaitan antara ide atau gagasan-gagasan matematika yang satu
dengan yang lainnya. Untuk mempromosikan pandangan ini NCTM (National Council
of Teachers of Matematics) merekomendasikan empat prinsip, yaitu :
1. Matematika
sebagai pemecahan masalah
2. Matematika
sebagai penalaran
3. Matematika
sebagai komunikasi, dan
4. Matematika
sebagai hubungan.
Selain
empat rekomendasi tersebut di atas, NCTM (1989) menambahkannya dengan estimasi
dan struktur matematika yang membantu dalam menggeneralisasikan matematika
secara komprehensif dan holistik.
Pembelajaran
matematika yang terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik
bahkan jika memungkinkan antar disiplin. Konsep pembelajaran matematika terpadu
mempertimbangkan siswa sebagai pembelajar dan
proses yang melibatkan pengembangan berfikir dan belajar.Pembelajaran
matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang komprehensif
dan holistik (lintas topik bahkan lintas bidang studi jika memungkinkan)
tentang materi yang telah disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak
sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substansi saja,
namun diharapkan pula muncul ‘efek iringan’ dari pembelajaran matematika
tersebut. Efek iringan yang dimaksud antara lain adalah :
1.
Lebih memahami keterkaitan antara satu topik
matematika dengan topik matematika yang lain.
2.
Lebih menyadari akan penting dan
strategisnya matematika bagi bidang lain.
3.
Lebih memahami peranan matematika dalam
kehidupan manusia.
4.
Lebih mampu berfikir logis, kritis, dan
sistematis.
5.
Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari
solusi pemecahan sebuah masalah.
6.
Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.
Ketercapaian
dua sasaran pembelajaran matematika secara substansi dan efek iringannya akan
tercapai manakala siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar
matematika (doing math) secara komprehensif dan holistik. Dengan demikian,
dalam proses belajar mengajar matematika kegiatan pengajaran perlu “diubah”
menjadi kegiatan pembelajaran. Teknik mengajar yang baik harus diganti dengan
teknik belajar yang baik. Titik berat pemberian materi pembelajaran harus
digeser menjadi pemberian kemampuan yang relevan dengan kebutuhan siswa untuk
belajar.
Belajar
matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan
meliputi learning to do, learning to be, hingga learning to live together. Oleh
karena itu, filosofi pengajaran matematika perlu diperbaharui menjadi
pembelajaran matematika.
2.2.1
Hakikat Pembelajaran Matematika
Pemikiran bahwa pembelajaran matematika lebih utama
dibandingkan dengan pengajaran matematika dan bahwa matematika penting dan
harus di kuasai oleh siswa secara komprehensif dan holistik, mengandung
konsekuensi bahwa pembelajaran matematika seyogianya mengoptimalkan keberadaan
dan peran siswa sebagai pembelajar. Karena filosofi antara pengajaran dan
pembelajaran matematika sesungguhnya berbeda, maka “pengajaran" matematika
harus berubah paradigmanya, yaitu :
1.
Dari teacher centered menjadi learner
centered
2.
Dari teaching centered menjadi learning
centered
3.
Dari content based menjadi competency
based
4.
Dari product of learning menjadi process
of lerning
5.
Dari summative evaluation menjadi
formative evaluation
Sejumlah
kelompok matematikawan dan pendidik matematika di Amerika Serikat mengusulkan
sejumlah revisi atau pembaharuan kurikulam matematika, khususnya untuk jenjang
sekolah menengah. Berikut ini dua buah saran dari sejumlah saran yang mereka
rekomendasikan, yaitu :
1.
A contemporary course in high school
mathematics should achieve the integration and unification of topics that have
traditionally been segregated in a three-year sequence consisting of algebra,
geometry, and intermediate algebra and trigonometry.
2.
Student will benefit from the early
introduction of practical modern aspects of mathematics, particularly logic,
probability, and statistics.
Guru
semestinya memandang kelas sebagai tempat di mana masalah-masalah yang menarik
di-eksplore oleh siswa dengan menggunakan idea-idea matematika. Sebagai contoh,
seorang siswa dapat mengukur benda-benda secara langsung, mengumpulkan informasi
dan menjelaskan apa yang mereka kumpulkan dengan menggunakan statistik atau
menjelajahi sebuah fungsi melalaui pengujian grafiknya. Dengan berlandaskan
kepada prinsip pembelajaran matematika yang tidak sekedar learning to know,
melainkan juga harus meliputi learning to do, learning to be, hingga learning
to live together, maka pembelajaran matematika seyogianya berdasarkan pada
pemikiran bahwa siswa yang harus belajar dan semestinya dilakukan secara
komprehensif dan holistik.
2.2.2
Mengembangkan Srategi Pembelajaran Matematika yang Terpadu
Mengajarkan
ilmu pengetahuan, termasuk matematika, mempunyai cara-cara yang sifatnya umum
dan khusus. Kedua nya harus mencakup hakekat pemahaman kognitif, afektif, dan
psikomotor. Di samping itu, tidak kalah penting nya bagaimana mengkomunikasikan
idea atau gagasan yang dikandung oleh ilmu pengetahuan tersebut kepada orang
lain. Karena pada dasarnya, pembelajaran adalah proses menjadikan orang lain
paham dan mampu menyebarluaskan apa yang dipahaminya tersebut.
Sebuah strategi pembelajaran, apapun
materi atau bidangnya, harus menekankan pada tiga aspek penting, yaitu;
a)
aspek kemampuan khusus;
b)
aspek wawasan dan kemampuan umum; dan
c)
aspek kemampuan berkomunikasi.
Demikian pula dalam pembelajaran
matematika, strategi pembelajaran yang digunakan harus mencakup 3 (tiga) hal tersebut
diatas.
Dalam pembelajaran matematika, seorang guru seyogianya
tidak menyekat secara ekstrim pelajaran matematika sebagai penyajian materi-materi
matematika belaka. Topik-topik dalam matematika sebaiknya tidak disajikan
sebagai materi secara parsial, tetapi harus diintegrasikan antara satu topik
dengan topik lainnya, bahkan dengan bidang lain. Matematika harus diperkenalkan
dan disajikan ke dalam kehidupan kita. Menyajikan matematika hanya sebagai
kumpulan fakta-fakta saja tidak akan menumbuhkan kebermaknaan dan hakikat
matematiak sebagai queen of the science
dan sebagai pelayan bagi ilmu lain.
Mengajarkan matematika sekedar sebagai sebuah penyajian
tentang fakta-fakta hanya
akan membawa sekelompok
orang menjadi penghafal yang baik, tidak cerdas melihat hubungan sebab-akibat,
dan tidak pandai memecahkan masalah. Padahal dalam menghadapi perubahan masa
depan yang cepat, bukan pengetahuan saja yang diperlukan, tetapi kemampuan
mengkaji dan berfikir (bernalar) secara logis, kritis, dan sistematis.
Sebagai konsekuensi dari penting dan strategisnya
matematika, maka pembelajaran matematika harus teritegrasi dan komprehensif,
sehingga seorang guru matematika harus :
1.
Mempunyai komitmen yang tinggi untuk
mengajar (menyajikan pembelajaran) secara komprehensif dan holistik dengan
metode dan pendekatan yang tepat dan proporsional.
2.
Senantiasa berusaha menambah pengetahuan
dan keterampilan untuk mengimbangi perupahan dan dinamika ilmu pengetahuan yang
terjadi, khususnya kaitan antar topik
dalam matematika dan pemanfaatan matematika oleh bidang lain.
3.
Berusaha melakukan penelitian (khususnya
penelitian kelas) unutk mengidentifikasi kelemahan dalam kegiatan pembelajaran
matematika (yang terintegrasi) yang dilakukan dan selanjutnya mencari
alternatif solusi yang mungkin untuk perbaikan pembelajaran di masa datang.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
3.1.1
Tutor sebaya adalah sumber belajar
selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar
kepada teman-teman sekelasnya disekolah.
3.1.2 Pembelajaran
matematika yang terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik
bahkan jika memungkinkan antar disiplin.
3.1.3
Guru semestinya memandang kelas sebagai tempat di mana masalah-masalah yang
menarik di-eksplore oleh siswa dengan menggunakan idea-idea matematika.
3.2 Saran
3.2.1
Sebaiknya siswa ataupun mahasiswa yang kurang mengerti tentang suatu materi,
hendaklah mencari tutor yang bisa mengajari ataupun membantu mempermudah
menjelaskan materi tersebut sehingga bisa mudah dipahami.
3.2.2
Dalam memecahkan masalah pada bidang lain, ilmu matematika bisa digunakan
sebagai alat bantu menyelesaikannya.
3.2.3
Seorang guru harus bisa mengeksplor matematika pada kehidupan nyata yang ada di
sekitar anak didiknya.
Daftar
Pustaka
Tim MKPBM Jurusan
Pendidikan Matematika.(2001).Stategi Pembelajaran
Matematika Kontemporer.Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar